Selasa, 01 Januari 2013

Ilmu Agama-Ilmu Umum Penggolongan yang Menyesatkan

Alquran adalah sumber segala ilmu pengetahuan, semua orang Islam pasti setuju akan hal itu. Memang benar, tidak hanya dari sisi keyakinan, dari sisi ilmiyah juga tidak bisa dibantah bantah Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan.Semua kemajuan saint dan teknologi pasti terdapat petunjuknya didalam Alquran. Alquran menggapai segala penjuru ilmiyah.

Jika semua telah sepakat tentang Alquran sebagai sumber segala ilmu, kemudian apa gunanya penggolongan yang selama ini dianut oleh banyak orang Islam, bahwa ilmu itu ada Ilmu Agama yang biasanya dituntut di Pondok-pondok Pesantren dan ada Ilmu Umum yang biasanya di tuntut di sekolah-sekolah. 

Ilmu agama ilmu umum, penggolongan ini selama puluhan tahun telah membunuh kreatif ummat Islam Indonesia, khususnya kyai-kyai dam santri-santri yang menamakan diri sebagai kyai dan santri salaf. Selama puluhan tahun banyak kyai-kyai menolak apa yang oleh mereka disebut ilmu umum. Mereka memahami ilmu itu hanyalah ilmu agama, hanyalah ilmu agama "menurut pemahaman mereka" yang bisa mengantarkan mereka ke surga (menggapai ridlo Allah). 

Dampak Negatif yang Kentara
Dampak yang jelas dari penggolongan ini adalah mereka mengabaikan 'keharusan' ketika mereka telah sampai pada pembahasan air dua kullah. mereka berhenti belajar sampai disitu. Padahal untuk mengetahui ukuran dua kullah air ketika ada dalam suatu tempat membutuhkan penghitungan, membutuhkaan rumus volume, dan itu adalah rumus matematika, dan matematika adalah ilmu yang oleh mereka disebut ilmu umum. Contoh lainnya adalah ketika sampai pada bab Faroid, mereka tidak sampai pada memahami rumus persen.

Belajar Bahasa Inggris adalah Belajar Ilmu agama
Islam adalah agama universal, agama Internasional, agama semua bangsa di dunia. Di bumi ini dihuni banyak suku bangsa dengan berbagai ragam budaya dan bahasa. Mari kita bayangkan, apakah Islam akan sampai ke Belanda jika tidak ada ummat ini yang bisa bahasa Belanda ?, apakah Islam akan sampai ke Suku Madura jika tidak ada pendakwah yang bisa Bahasa Madura ?, apakah Islam akan sampai ke Orang Inggris jika tidak ada muballig yang bisa Bahasa Inggris ? Jika bayangan anda menyetujui pertanyaan-pertanyaan ini itu artinya anda setuju bahwa belajar bahasa adalah belajar agama.

Islam hari ini telah dianut hampir oleh semua suku dan bahasa di dunia, semua itu adalah jasa para muballig ummat ini yang mengerti bahasa mereka.

Kesimpulan
Pada sebenarnya, kita selama ini telah mengalami kesalahan dalam memahami ilmu, telah membeda-bedakan ilmu. Padahal kita meyakini bahwa ilmu itu dari satu sumber dan semua ilmu bisa mengantarkan ahli-nya kepada keimanan yang sempurna.
Oleh karena itu berbahagialah kalian yang telah diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar lebih banyak ilmunya Allah.

Semoga Manfaat.   

Senin, 13 Agustus 2012

IMTIHAN MADRASAH KEBANYAKAN GOYANG

Pada suatu hari saat saya menyaksikan acara Haflah wa Milad atau biasa disebut Imtihanan, ada seorang hadirin yang berbicara pelan kepada saya "Gimana ini jaman, anak santri kok disuruh joget seperti ini, bukankah ini akan merusak karakter anak didik yang dibina dalam satu tahun dengan akhlak baik". Dia melanjutkan ketidaksetujuannya " Acara pengajian itu tidak perlu ada acara joget-nya" katanya sambil kelihatan jenuh menunggu acara inti dimulai.

Sepulang acara malam itu saya jadi kepikiran dengan kata-kata orang tadi. Pada saat yang lain, saya kebetulan bertemu dengan salah seorang teman yang mengelola MADIN yang jika imtihan juga diadakan acara anak-anak yang menampilkan tarian santri ala india, joged ala roker dan lain lain sebagainya yang serba meriah. Santri putra yang ditampilkan memakai kalung, gelang gaul dan celana selutut. Mereka semangat berjoged. Saya tanya " kenapa kalau imtihan mesti ada acara joged-jogednya?" Dia jawab untuk menarik minat santri tetap mengaji.


Sepintas seakan -akan benar alasannya. Tetapi kalau dikaji lebih mendalam dengan memakai metode mafsadah dan manfaat maka penampilan seperti itu lebih banyak mafsadahnya.


Mari kita tengok susunan acara salah imtihan yang pernah ada:

Siang: 
Jam 14:00 DrumBand, 
Jam 15:00 Acara Anak-Anak yng diisi dengan Joged. ini berlangsung sampai waktu magrib tiba.
Malam: 
Jam 18:00 kelanjutan acara anak-anak (Joged, nyanyi) ini berlangsung sampai acara inti yaitu pada jam 20:00
Jam 20:00 Dimulai acara Pembagian hadiah
Jam 21:00 Dimulai acara Pengajian Umum.

Melihat susunan acara di atas, acara yang paling tidak diminati adalah acara pengajian umumnya, karena para wali murid sudah 70% beranjak pulang setelah melihat penampilan anak-anaknya.Dengan begitu, apa yang menjadi tujuan acara imtihan yang memakan biaya banyak seperti ini? Foya-foya?, Anggah-anggahan dengan lembaga lainnya? atau tunjuk hidung bahwa mempunyai anak didik banyak? atau PROMOSI agar nanti di tahun pelajaran baru bisa lebih banyak santri yang datang? atau Membina ummat? Tentunya yang mempunyai niat adalah para pengasuh masing-masing MADIN.


IMTIHAN YANG IDEAL

Saya mengajak berpikir ulang kepada para penyelenggara MADIN hendaklah jangan berfoya-foya dengan menggelar acara anak-anak yang berlebihan, karena demikian itu tidak mencerminkan prilaku islami.
Apa alasan anda yang sesuai hukum syariah menggelar acara-acara dengan memasukkan budaya-budaya brutal? Apa manfaatnya dari sisi pendidikan anak?

Imtihan yang ideal adalah cukup mengemas acara pembagian hadiah untuk para bintang pelajarnya dan dilanjutkan dengan pengajian umumnya. Jadi acara pengajiannya jangan terlalu malam. Insyaalah lebih bermanfaat kepada anak didik dan wali muridnya, juga tidak berkhianat pada penyandang dana.

Wallahu a'lam bishshowab.

Senin, 06 Agustus 2012

Syi'ar Spiker yang Mengganggu

Jam 02:00 dini hari (bulan Ramadan), spiker / pengeras suara di masjid dekat rumahku sudah berbunyi dengan volume mantab. "Sahurrrrrrrrrr ........ sahurrrrrrr .... sekarang jam menunjukkan pukul 02:00 pas".
Setelah itu dikumandangkan bacaan-bacaan tarkhim dari kaset, juga dengan volume mantaB. Terus syi'ar spiker ini berlangsung hingga jam 04:11 menit saat tiba waktu imsak.
Setelah imsak, dikumandangkan qiroah dari ust. Muammar atau lainnya. Lalu dilanjutkan dengan sholawat menjelang adzan dengan volume mantaBB.
Setelah itu dikumandangkan adzan, lalu bacaan-bacaan menunggu sholat shubuh lalu iqomah, semuanya ini dengan VOLUME yang mantabbb hingga jam 04:21 menit.
Pas sudah, hampir 3 jam kuping saya disuguhi syiar spiker ini.
Baru sepi ketika sholat shubuh dilaksanakan. Setelah wirid ba'da sholat shubuh, syiar spiker berbunyi lagi, juga dengan suara yang mantabbb DAN keras

Mungkin niat dan tujuan dari para ta'mirin masjid ini baik; membantu membangunkan orang Islam yang mau menjalankan puasa. Mengingat mereka agar makan sahur. Mengingatkan mereka agar memasak untuk makan sahur.

Tetapi, hendaklah para takmirin ini juga berfikir bahwa syiar spikernya sangat mengganggu istirahat warga. Apalagi di rumah warga yang di dalamnya terdapat bayi baru lahirnya. Seperti bayiku.
Berapa kali bayiku terbangun diantara jam 02:00 sampai 04:21 itu.
dan bangunnya bayiku itu sudah cukup menyita waktu istriku untuk menidurkannya kembali. Akibatnya, jangankan masak untuk sahur, MAKAN sahurnya saja tidak sempurna.

Bagaimana hukumnya?
Untuk menentukan hukumnya kita tidak perlu repot-repot buka dalil. Cukuplah suatu perbuatan itu bisa dibilang berdosa jika sudah menimbulkan gangguan kepada "satu saja" orang Islam. Jika suatu perbuatan itu sudah menimbulkan DOSA, maka pastilah perbuatan itu diharamkan.

Solusinya
Hendaklah siaran pakai pengeras suara itu jangan dilakukan dalam semua waktu. Tapi diatur, misalnya 10 menit spiker dibunyikan, 15 menit dimatikan. Jadi tidak bising selama berjam-jam. Atau cukup dengan mengirformasikan jam saja. Tidak perlu berjam-jam nyetel kaset.

DALAM BAB INI TELAH TERJADI PRASANGKA BAHWA APA YANG MEREKA LAKUKAN ADALAH PERBUATAN BAIK, PADAHAL DIDALAMNYA TELAH TERJADI GANGGUAN KEPADA ORANG ISLAM. SEHINGGA DOSA YANG MEREKA DAPAT LEBIH BESAR DARI PAHALA YANG MUNGKIN MEREKA DAPAT.

walloa'lam.

Kamis, 26 Januari 2012

HARLAH ANSOR, BAGAIMANA SEBAIKNYA ?

PULUHAN JUTA....?
ya..., rentetan acara Hari Jadi ANSOR di kecamatan Jatiroto Lumajang Jatim baru-baru ini (awal januari 2012) menghabiskan dana puluhan juta rupiah. Mulai yang namanya pawai ta'aruf, jalan santai berhadiah sapi, dialog agama hingga pengajian umum. SERU...? tentu saja. SUKSES ACARANYA...? tentu saja. BERMANFAAT BAGI WARGA NU...? tunggu dulu.
Untuk persoalan manfaat bagi warga NU khusunya sahabat-sahabat ansor sendiri, jawabannya adalah DI TAFSIL (meminjam istilah LBM NU)
Jika dikatakan bermanfaat "ya" tetapi hanya terbatas pada orang - orang tertentu. Tetapi bagi orang NU (ANSOR) pada umumnya, saya pikir "TIDAK"
Yang terjadi hanyalah "penghamburan" rupiah atau lebih extrim lagi adalah "penghianatan" amanah dari penyandang dana. Kok bisa....?
Beginilah cara bercerita:
Pada umumnya orang beranggapan bahwa amalnya itu untuk ibadah. Tapi pada tingkat pelaksanaan, panitia selalu berpikir "kemeriahan". Sehingga dibikinlah / disepakatilah acara-acara yang sifatnya seremonial. Yang penting dihadiri oleh banyak orang. Teman-teman ansor hanya berpikir bagaimana ANSOR ini tampak "BESAR", banyak pengikut, banyak anggota. (padahal pada kenyataannya, Anggota Ansor adalah Pengurus Ansor itu sendiri).
Hingga pada acara puncaknya, yang mereka menyebutnya dengan acara "Pengajian Akbar". Saya menyempatkan diri lewat di tempat acara: InnalilLah ..., hanya segelintir orang yang siap-siap mendengarkan CERAMAH AGAMA sambil menunggu sang muballigh yang kunjung datang.
Lalu ............... , siapa yang yang dibidik teman-teman Ansor dalam perhelatan ulang tahun yang memakan  biaya puluhan juta dari AMAL ini...?
siapa yang berhasil di perbaiki agamanya ....?
INILAH "SEMU" yang dicapai hingga akhir cerita.

Sebuah SOLUSI:
Kalau memang Ansor ingin berbuat yang lebih baik dan tepat sasaran, melihatlah disekelilingnya; masih banyak Muslim awam yang enggan sholat lima waktu, beri mereka bimbingan, habis dibimbing kasih uang jajan. (daripada buat jalan santai)
Bahkan ditempat saya mukim (Lumajang Timur) ada seorang muslim miskin yang masih menjadi buruh (tukang bersih) di Gereja Kristen. Apakah remaja Ansor tidak melihat ini....? Bukankah ini sasaran dakwah yang tidak akan makan puluhan juta...?
Inilah saya pikir, kedepannya Ansor mesti mengisi ulangtahunnya dengan acara "Penyelamatan Aqidah" saudara muslimnya.

Kamis, 19 Mei 2011

Kaya = ilmunya barokah. Benarkah...?

Si Edi (nama samaran) adalah seorang santri yang memperoleh predikat Santri Clemer. Dalam catatan pengurus pondok pada masanya, dia selalu istiqomah mengulang pelanggarannya terhadap peraturan2 pesantren. Segala model hukuman telah ditimpakan pada dia namun tidak membuatnya jera. Bahkan ditingkat pengurus pernah pula diadakan rapat koordinasi khusus membahasnya. 10 tahun kemudian si Edi dikaruniai Allah dengan keluasan rejeki, dia kaya raya dan usahanya selalu diberi keberhasilan.

Di sisi lain adalah si Ahsan (juga bukan nama sebenarnya) adalah santri yang mempunyai nilai oke di mata para pengurus pada masanya. Tingkahnya selalu mendapat pujian. Prestasinya mantab. 10 tahun kemudian ternyata dia di kasih kesempitan rejeki oleh Allah, usahanya selalu gagal.

Dengan 2 kisah diatas, biasanya kebanyakan kita sebagai santri akan berkomentar: "liat si Edi, walaupun di pondok MELER tapi ilmunya barokah, (dia kaya)". Sebaliknya "liat si Ahsan dia dulu anak baik-baik tapi ilmunya tidak manfaat, dia dikasih kesempitan hidup"

Masih umum jalan pemikiran santri mengukur barokah ilmu (manfaat ilmu) dengan kondisi hidup seseorang jika sudah boyong dari pesantren. Kalau melihat ada alumni di"kayakan" oleh Allah dianggapnya sebagai keberhasilan menuntut ilmu, jika ada yang mengalami kesulitan hidup dianggapnya sebagai kegagalan menuntut ilmu (madura: kening tola) itu adalah pandangan-pandangan salah kaprah yang sudah berlangsung lama yang perlu di LURUSkan.

Bagaimana meluruskannya? berikut adalah beberapa tips usulan saya:
1. Kita harus memahami arti ilmu manfaat / barokah. Ilmu manfaat adalah ilmu yang bisa mendekatkan si empunya kepada Allah yang mempunyai sifat Ilmu. Jelas sekali kedekatan seseorang kepada Tuhannya tidak diukur dengan materi. Bisa saja si Ahsan dalam kisah diatas adalah orang yang sangat dekat kepada Allah, dan si Edi adalah orang yang jauh. Ada juga yang mengartikan ilmu manfaat itu dengan arti ilmu yang selalu berkembang sebab diamalkan.
2. Urusan kaya / miskin materi itu adalah sama-sama merupakan ujian dari Allah. Si miskin Ahsan paham bahwa dirinya sedang diuji oleh Allah, karena dia tahu waktu dulu belajar di pondok bahwa hidup adalah ujian.  Sementara si Edi tidak menyadari bahwa kekayaannya adalah ujian, karena memang tidak pernah menerima pelajaran bahwa hidup adalah ujian. dengan begitu siapa yang manfaat ilmunya...? Edi atau Ahsan?
3. Bacalah kisah-kisah para Nabi, khususnya Nabi-Nabi yang miskin tapi dekat dengan Allah.

Semoga tiga tips di atas bisa mencabut pikiran salah yang tertanam sekian lama. Wallahu a'lam.

syafJTR.

Kesalahan Orang NU dalam memahami Madzhab NU

Oleh: Syafii Nur *)


Maha Suci Allah yang telah menciptakan.

Sudah umum dikalangan kita warga NU, kalau melihat orang sholat shubuh tidak baca doa Qunut lantas mereka melabeli dia sebagai orang "muhammadiyah". Sudah umum warga kita NU jika melihat ada orang memelihara anjing, mereka melabeli dia dengan "dia bukan orang Islam". Sudah umum warga kita NU jika melihat orang lagi sholat memakai celana dan tidak berkopyah, mereka melabeli dia dengan "dia bukan ahlussunnah". Pertanyaannya adalah: Benarkah apa yang dikatakan warga kita itu...?
Untuk menjawabnya mari kita melirik sedikit pada faham NU yang di AD/ART NU, biar kita tahu NU itu ada dijalan yang mana.

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai jam'iyah sekaligus gerakan diniyah islamiyah dan ijtima'iyah, sejak awal berdirinya telah menjadikan faham Ahlussunah Wal Jama'ah sebagai basis teologi (dasar beraqidah) dan menganut salah satu dari empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali sebagai pegangan dalam berfiqih. Dengan mengikuti empat mazhab fiqih ini, menunjukkkan kelenturan sekaligus memungkinkan bagi NU untuk beralih mazhab secara total atau dalam beberapa hal yang dipandang sebagai kebutuhan (hajat) meskipun kenyataan keseharian ulama NU menggunakan fiqih masyarakat Indonesia yang bersumber dari mazhab Syafi'i. Hampir dapat dipastikan bahwa Fatwa, petunjuk dan keputusan hukum yang diberikan oleh ulama NU dan kalangan pesantren selalu bersumber dari mazhab Syafi'i. Hanya kadang-kadang dalam keadaan tertentu untuk tidak terlalu melawan perkembangan jaman - melintas ke mazhab lain.

Dengan menganut salah satu dari empat mazhab dalam fiqih, NU sejak berdirinya memang mengambil sikap dasar untuk "bermazhab". Sikap ini secara konsekuen ditindaklanjuti dengan upaya pengambilan hukum dari referensi ("maraji') berupa kitab-kitab fiqih yang pada umumnya dikerangkakan secara sistematik dalam beberapa komponen: ‘ibadah, mua'amalah, munakahah (hukum keluarga) dan jinayah/qadla (pidana/peradilan). 


Dalam hal ini para ulama NU dan forum Bahtsul masa'il mengarahkan orientasinya dalam pengambilan hukum kepada aqwal al-mujtahidin (pendapat para mujtahid) yang muthlaq ataupun muntashib. Bila kebetulan ditemukan qaul manshush (pendapat yang telah ada nashnya), maka qaul itulah yang dipegangi. Bila terjadi khilaf (perbedaan pendapat) maka diambil yang paling kuat sesuai dengan pentarjihan para ahlul-tarjih. Mereka juga sering mengambil keputusan sepakat dalam khilaf akan tetapi juga mengambil sikap untuk menentukan pilihan sesuai dengan situasi kebutuhan hajjiyah tahsiniyah (kebutuhan sekunder) maupun dlaruriyah (kebutuhan primer).

Dalam memutuskan sebuah hukum, sebagaimana dimaklumi, NU mempunyai sebuah forum yang disebut bahtsul masa'il yang dikoordinasi oleh lembaga Syuriyah (legislatif). Forum ini bertugas mengambil keputusan tetang hukum-hukum Islam baik yang berkaitan dengan masa'il fiqhiyah (masalah fiqih) maupun masalah katauhidan dan bahkan masalah-masalah tasawuf (tarekat).


Nah, dari uraian singkat diatas kita bisa memahami dan menjawab ketidaktahuan sebagian warga NU bahwa sholat shubuh tidak membaca doa qunut, sholat tidak memakai kopyah dan memakai celana panjang boleh-boleh saja dilakukan oleh warga NU, karena semua ada penjelasannya didalam salah satu 4 madzhab yang duikuti NU. Bahkan orang NU memelihara anjing-pun tidak masalah, toh menurut madzhab Maliky anjing itu tidak najis. Tinggal pintar-pintarnya dia mau ikut madzhab yang mana.

Kesimpulannya adalah bahwa Doa Qunut, Sarung, Kopyah, Anjing / Babi bukanlah menjadi ukuran seseorang tergolong NU atau Muhammadiyah, Ahlissunnah atau Ahlilbid'ah dan BUKAN ukuran seseorang Islam atau Bukan Islam.


Tetapi yang sangat disayangkan adalah masih banyak warga NU bahkan sampai ke tingkat pengurus Anak Cabang yang tidak memahami ini. Sehingga kata-kata mereka bisa mengeruhkan ketenteraman hidup bermasyarakat. Menurut hemat saya, hal seperti ini terjadi karena biasanya kepengurusan NU dipilih berdasarkan loyalitas atau masa bakti, bukan berdasarkan keilmuan atau pemahaman tentang NU itu sendiri. Semoga Bermanfaat.

*) alumni PPFU Manggisan Jember 2005

Kamis, 14 April 2011

Salah Kaprah di Masjid-Masjid NU di Hari Jumat

Sebelum saya ngelantur kemana-mana, saya nyatakan bahwa saya adalah warga NU asli sejak lahir. Saya pernah punya kartaNU, tapi sudah hilang. Sekarang saya hidup di masyarakat yang 85% warganya adalah warga NU. Sebab saya hidup di masyarakat NU, tentu saya setiap kali / sering kali melihat kebiasaan-kebiasaan masyarakat saya yang salah tapi kaprah, bahkan sampai pada taraf "menyesatkan". Salah satu salah kaprah itu adalah yang biasa terjadi di masjid- masjid NU, diantaranya adalah:

1) Berbaurnya (ikhtilath) jamaah laki-laki dan wanita
Setiap pelaksanaan sholat berjamaah. jamaah laki-laki masih punya akses pandang untuk melihat kepada jamaah wanita atau sebaliknya, suara wanita yang terdengar hingga kekuping jamaah laki-laki waktu dzikir menunggu imam, waktu membaca 'amin' dan waktu wiridan setelah sholat.  Diantaranya lagi adalah pulang serentak/ bareng antara laki-laki dan wanita.
Semua kejadian yang saya sebutkan diatas dianggap KAPRAH oleh mereka. Padahal semestinya tidak begitu. Misalnya saat pulang dari masjid, pada jaman Nabi dikisahkan jamaah wanita pulang lebih dulu dan laki-lakinya pulang belakangan / diam dulu di masjid sampai para jamaah wanita pulang semua, sehingga tidak timbul ikhtilath di jalan. Namun yang di kaprahi sekarang adalah jamaah wanitanya berlama-lama di masjid karena mereka beranggapan 'lama di masjid' sebagai bagian dari kebaikan sehingga keluarnya dari masjid terjadi ikhtilath karena berbarengan dengan jamaah laki-laki dan tidak dianggap sebagai suatu kesalahan.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah di sebagian masjid masih memiliki jeding / tempat wudlu tunggal sehingga disitu bukan hanya terjadi ikhtilat tetapi hingga terjadi 'penampakan' aurat.
Jalan keluarnya, hendaklah para pengurus masjid melihat kesiapan kondisi masjidnya jika ingin memperbolehkan wanita masuk masjid untuk berjamaah sholat jumat. Bukankah agama kita sudah menyatakan bahwa sholat wanita dirumah lebih baik daripada di masjid walaupun dibelakang Nabi.

2) Adzan JUMAT.
Adzan mempunyai dua fungsi; 1) sebagai pemberitahuan masuknya waktu sholat, 2) sebagai panggilan  / pemberitahuan akan didirikannya sholat berjamaah.
Pada hari jumat warga NU biasa mengumandangkan adzan DUA KALI, pertama adzan sebagai tanda masuk waktu dluhur dan kedua sebagai adzan jumat. Namun yang dianggap KAPRAH oleh warga NU adalah adzan pertama dikumandangkan dengan KERAS dan MERDU sementara adzan kedua dikumandangkan dengan CEPAT dan TIDAK KERAS. Disini terjadi SALAH KAPRAH pada adzan ke-2 (adzan jumatnya), dimana mereka menghilangkan fungsi adzan sama sekali atau lebih tepatnya mereka hanya melakukan adat / KEBIASAAN saja pada adzan kedua.
Menurut saya, semestinya adzan KE 2 ATAU ADZAN JUMAT juga dilakukan seperti adzan pertama, yaitu dengan SUARA KERAS dan MERDU, sehingga muslimin yang masih ada di luar mesjid biar cepat-cepat masuk masjid, karena ADANYA adzan kedua berarti Khotbah Jumat segera dilaksanakan dan dilanjutkan dengan sholat jumat.

3) Penarikan Amal
Sebagian masjid melaksakan TARIK AMAL saat khotib sedang berkhutbah. Kesalahannya adalah jamaah disibukkan menaruh amal dan dibisingkan dengan suara uang recehan karena wadah amalnya terbuat dari kaleng bekas, Sehingga khotbah tidak khitmat dan cendrung tidak didengarkan. Padahal, saat khotbah jumat dibaca, kita makruh melakukan amalan-amalan lain selain mendengarkan khotbah jumat. Artinya kita naruh jariah, wiridan, bincang ilmu, dakwah, dan bentuk ibadah lain saat khotbah, tidaklah mendapat pahala. Apalagi ngomong tak karuan saat khotbah...!  

Tambahan: 3 keadaan kita makruh melakukan ibadah;
1. saat khotbah jumat
2. saat ada suara adzan
3. saat ngantuk

4) Imam Sholat Jumat,
Kesalahkaprahan yang biasa dilakukan adalah saat naik mimbar. Biasanya mereka naik mimbar dengan diiringi sholawat, sholawat pertama untuk tangga mimbar pertama, sholawat kedua untuk tangga kedua, sholawat ketiga untuk tangga ketiga. Mereka begitu konsisten melakukan kebiasaan ini, padahal ini bukan bagian dari aturan agama, sampai-sampai, mungkin mereka tidak akan melangkah ke tangga berikutnya jika sholawat tidak di baca.
Pernah terjadi sebuah kasus dimana sang Bilal tertidur / tidak baca sholawat saat Khotib duduk diantara dua khotbah, maka saat itu si KHOTIB menunggu sholawat dibaca dan sepertinya enggan melanjutkan khotbah ke dua, sehingga, menurut saya, duduknya si Khotib terlalu lama hingga batas membatalkan khotbah. Ini terjadi karena si Khotib memahami bacaan sholawat di antara dua khotbah sebagai suatu keharusan, padahal tidak demikian adanya.
Untuk menghindari ini ada dua jalan yang perlu dilakukan, 1. mengadakan training untuk para khotib baru 2. jangan membiasakan diri membuat tiga tangga di mimbar.

5) Wirid / bacaan Dzikir selesai sholat jumat
Umumnya di masjid-masjid NU para imamnya membaca beraneka ragam bacaan; mulai dari tahlil, tawasul, kirim-kirim pahala Fatihah, pengumuman pengajian dan lainnya. Yang saya tahu, selesai salam sholat jumat, Nabi kita Muhammad saw menuntun kita agar tidak merobah posisi duduk tahyat akhir den membaca surat alFatihah 7x, alIkhlash, alFalaq, anNas masing-masing 7x, dengan begitu kita akan mendapatkan penghapusan dosa kecil hinga hari jumat berikutnya. Tetapi Saudara NU kita telah terjebak pada amalan tanpa didasari ILMU, mereka ngarang-ngarang sendiri bacaan2 setelah salam jumat dan menganggapnya sesuatu yang KAPRAH.

6) Salam-salaman (JABATAN TANGAN) selesai salam sholat.
Lihatlah oleh kalian bahwa mereka selesai salam sholat jamaah langsung salam-salaman kanan-kiri depan belakang, mereka beranggapan yang dilakukannya itu adalah kebaikan. Padahal, sebenarnya mereka telah mengganggu sesama muslimnya yang hendak mengamalkan wiridan ba'da jumat seperti yang diajarkan Nabi. Jalan keluarnya ialah lakukanlah saling jabat tangan itu nanti selesai doa, dengan demikian semuanya insyaalLah lebih tertib.

Sebenarnya masih banyak sekali kejadian-kejadian salah di masjid NU di hari jumat jika kita mau menelaahnya, namun saya cukupkan pada apa yang sudah saya sebutkan di atas, semoga menjadi peringatan untuk orang-orang yang mau diperingati dan rendah hati.

'aFWAN..!